Pusat Logistik Berikat Diperluas, Status BUT Dipertegas

Sunday, 01 April 2018
Pusat Logistik Berikat Diperluas, Status BUT Dipertegas

Pengembangan Pusat Logistik Berikat (PLB) sejak diluncurkan pada tahun 2016 dinilai berhasil menekan ongkos logistik nasional dan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan bahan baku industri. Meskipun demikian, masih banyak catatan ketidakpastian perpajakan, terutama terkait status Bentuk Usaha Tetap (BUT).

Plus-minus dari keberadaan PLB generasi pertama ini menjadi pertimbangan pemerintah untuk memperluas cakupan PLB sekaligus mempertegas regulasi perpajakan yang menaunginya. Terkait hal ini, pemerintah mengeluarkan aturan baru yang mengatur tentang PLB generasi kedua.

Untuk lebih jelasnya, Tax Guide menyarikan penjelasan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi dalam acara press conference di Gedung Juanda, Kementerian Keuangan, Senin 2 April 2018. Berikut nukilannya:

Bagaimana perkembangan dan pencapaian PLB sejauh ini?

Kinerja PLB generasi yang pertama, seperti yang kita tahu, diperuntukan hanya untuk menimbun bahan baku (raw material) dan machinery (permesinan). Karena ketentuannya masih limitatif terhadap dua komoditas itu.

Saat ini ada 55 perusahaan di 75 lokasi PLB, dengan sebaran dari Aceh sampai ke Sorong. Semua PLB itu sudah full utilisasi dengan nilai (barang) yang ditimbun sekarang mencapai US$ 2,5 miliar dalam bentuk inventory. Barang-barang itu berasal terutama dari Negara Singapura, China, Jepang dan lain-lain.

Bagaimana dampaknya terhadap aktivitas pelabuhan utama?

Dengan adanya PLB, pelabuhan Tanjung Priok itu hanya sebagai transit saja, sebelum nanti dikirim ke PLB. Karena tidak dilakukan pemeriksaan apapun di pelabuhan-pelabuhan utama kita, maka (barang) kita bisa keluarkan pada hari yang sama. Sementara kalau yang di PLB itu 1,62 hari. ini untuk tentunya sekaligus mendukung pemangkasan dwelling time (bongkar muat barang di pelabuhan).

Selain itu?

Dengan hadirnya PLB terjadi penghematan sewa penimbunan. Sebagai contoh alat berat yang menggunakan PLB sebesar US$ 5,1 juta dollar per tahun. Kemudian efisiensi juga terjadi pada saat pemotongan biaya freight dari satu pengguna (fasilitas PLB).

Sebab, tadinya mereka harus bolak balik (mengimpor). Dikarenakan impornya dalam partai-partai kecil. Jadi, dari 2-3 vessel menjadi hanya 1 vessel saja. Dengan adanya PLB, barang yang diimpor harus dalam jumlah yang banyak.

Dan karena yang diimpor dalam jumlah banyak dan di taruh di PLB dan belum membayar pajak, baik bea masuk maupun pajak dalam rangka impor, maka otomatis akan meningkatkan cash flow. Karena yang dibayar adalah yang memang dikeluarkan ke domestik. Jadi, selama dia masuk ke dalam PLB maka dia belum dipungut bea masuk maupun pajak dalam rangka impor.

Sekedar contoh terkait memindahkan warehouse. Dari generasi yang pertama saja, untuk memindahkan alat berat dari satu PT saja, maka mereka sudah shutdown satu warehouse dari Singapura, mereka pindahkan ke sini.

Berdasarkan evaluasi sejauh ini, bagaimana rencana pengembangan PLB selajutnya?

Pada tangal 27 maret yang lalu bapak Presiden mengeluarkan kebijakan yang baru, yaitu pengembangan Pusat Logistic Berikat dari yang sebelumnya menjadi yang sekarang, atau generasi satu menjadi generasi dua. Generasi dua ini untuk mengakomodasi supporting kepada industri untuk mengakselerasi ekonomi digital, ketahanan nasional, distribusi dan hub logistik serta UMKM.

Kami melihat ada keperluan untuk mengembangkan PLB generasi kedua. Tentunya karena melihat keberhasilan yang pertama dalam memindahkan logistik, menurunkan load time, full uitilisasi PLB, dan biaya logistik turun.

Tujuan pengembangan PLB generasi kedua apa?

Untuk mengakomodasi tuntutan perkembangan ekonomi dunia, terutama e-commerce, transshipment (pindah kapal). Indonesia kalau kita lihat berada di antara benua Australia dan Asia dan di antara Laut Pasific dan Hindia, sehinga kita dipersimpangan,. Nah dalam posisi ini Indonesia ingin menjadi transit point.

Indonesia berharap menjadi hub, paling tidak di Asia Tenggara, regional. Selama ini peran itu diambil oleh Port-hub, Singapura. Kita mempunyai potensi, terutama memang barang yang ditimbun di sana, banyak barang-barang untuk keperluan di Indonesia. Sehingga ini sangat feasible.

Juga adanya keperluan untuk offshore trading. Kalau kita lihat perkembangan di persimpangan selat malaka kita melihat banyak sekali peluang untuk mengembangkan offshore trading.

Lebih jelasnya pengembangan seperti apa yang akan dilakukan?

Dari pengalaman pertama, pengusaha-pengusaha meminta kepada pemerintah untuk memberikan kepastian perlakuan perpajakan Bentuk Usaha Tetap (BUT). Kemudian masalah Surat Keterangan Bebas (SKB) PPN, PPN penyerahan, laporan surveyor dilakukan di PLB, dan back to back Certificate of Origin atau Surat Keterangan Asal (SKA). Itu semua hal yang ditegaskan dalam peraturan PLB generasi kedua.

Terkait status BUT, kepastian seperti apa yang diminta pengusaha?

Sekedar memberikan gambaran, jadi kemarin banyak pertanyaan dari pengusaha di luar negeri. Mereka mau masuk untuk timbun barang di PLB dan menjadikan Indonesia sebagai logistic center di regional. Lalu, mereka mempertanyakan status BUT. Kita sudah buatkan penegasan di sini, Jadi penentuan status PLB sebagai BUT berlaku ketentuan sebagai berikut.

Pertama, bahwa status PLB itu sesuai dengan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B). Dalam hal negara asal supliernya memiliki P3B dengan Indonesia. Jadi kalau dia sudah P3B ya kita ikut ketentuan di dalam P3B.

Tetapi kalau kita dengan negara dimana barang itu berasal belum P3B, maka sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang PPh. Dalam hal negara yuridiksi tidak memiliki P3B. Saya kira penegasan ini sangat penting, sehingga setelah ini tentunya sudah banyak yang akan masuk ke Indonesia.

Kemudian bagaimana dengan SKB PPN?

Sekedar gambaran, jadi dulu SKB PPN itu kalau melakukan impor ada ketentuan harus pake BL (Bill of Lading) sebagai salah satu syaratnya. Nah sekarang karena itu tidak dilakukan di pelabuhan, maka kita bisa proses SKB-nya dengan menggunakan dokumen-dokumen yang setara, dan itu dokumen-dokumen pabean.

Jadi, simple sekali nantinya, tidak harus ada BL. Karena, misalnya, barang itu masuk dalam 100 kontainer ke PLB, dijualnya kan secara parsial, sementara itu tidak ada BL parsial. Sehingga kita gunakan dokumen-dokumen pabean saja, dan itu tetap akan keluar SKB. Sehingga tetap haknya pengguna di domestik akan tetap mendapat SKB PPN-nya.

Fokus PLB Generasi kedua apa saja?

Dari beberapa poin tadi, pemerintah memutuskan untuk mengembangkan PLB generasi kedua, yaitu ada tujuh bentuk tambahan lainnya. Dulu, intinya ini untuk industri raw material dan machinery. Sekarang kita lihat ada PLB untuk kebutuhan pokok, misalnya kedelai, gandum, jagung. Jadi kita berharap nanti, Indonesia yang tidak banyak produksi kedelai, bisa impor satu kapal besar, entah itu 1.000 ton, 100.000 ton. Ada dua keuntungannya: stabilisasi pasokan kebutuhan pokok dan harga nanti pasti akan turun.

Kedua itu , PLB hub cargo udara, transshipment. Ini terutama di Bali, Bandara Ngurahrai dan Cengkareng (Bandara Soekarno-Hatta). Karena kalau kita lihat Bali, ada 100-an internasional flight dan kebanyakan bawa penumpang, dan lambungnya kosong. Ini tentunya dapat kita manfaatkan untuk PLB, masuk dari Bali kemudian kita sebarkan kemana-mana.

Ketiga, PLB untuk barang jadi. untuk awal ini kita tetapkan minuman keras. Tetapi tentunya setelah ini kita bisa mengakomodasi apapun barang jadi, selama sudah mendapatkan rekomendasi dari kementerian terkait. Mengapa miras, kita lihat selama ini miras ada di Singapura, kemudian parsial satu kontainer masuk priok, masuk Surabaya.

Nah sekarang kita pengen pindahkan ke sini. Jadi nanti dari penjualnya langsung masuk ke Indonesia dalam partai besar, kemudian kita sebarkan dan kita awasi bersama-sama. kelebihannya PLB adalah sentralisasi jadi kita bisa awasi secara bersama-sama. Ini bukan projeknya bea cukai, tapi project-nya pemerintah Indonesia, yang mengawasi adalah pemerintah Indonesia jadi nanti collective controlled.

Keempat, PLB untuk e-commerce, jadi e-commerce distribution center. Malaysia sudah punya, Indonesia juga pengen.

Kelima, khusus industri kecil dan menengah.

Kemudian (keenam), PLB untuk floating storage. Jadi semacam pom bensin di tengah laut. Seperti di Selat Malaka itu banyak sekali transaksi jual beli, kita bisa jadikan Selat Malaka dan sekitar daerah Pulau Nipa, daerah Batam sebagai PLB minyak, misalnya.

Selanjutnya (ketujuh), PLB khusus barang ekspor barang komoditas. Kami ambil contoh timah, karet dan kopi. Ini penting, kita ekspor timah terbesar, tetapi bursa komoditasnya di Singapura. Jadi, kita ekspor dulu ke Singapura baru diperdagangkan di situ.

Mereka memperdagangkan di Singapura tidak di Bangka Belitung, karena pada saat barang itu masih di dalam negeri sebelum ada kebijakan ini, maka kita anggap sebagai transaksi dalam negeri sehingga jual-beli berpindah tangan lima kali juga terkena pajak, PPN terutama.

Bagaimana perlakuan perpajakan jika barang komoditas masuk PLB terkait perpajakannya?

Nah, dengan prinsip yang baru, sebagaimana PMK yang sekarang ini maka begitu barang lokal masuk ke PLB, maka barang itu sudah dianggap ekspor, seakan-akan barang itu sudah di luar negeri. Sehingga mau transaksi berapa kalipun barang itu ditransaksikan, sepuluh kali, maka dia tidak menjadi subyek PPN lokal. Dan itulah, maka kemudian ini nanti akan menarik minat untuk memindahkan bursa komoditas.

RelatedArticles

Previous Next
Publication
Tax Guide, Tax Blitz, and other complimentary publications to download
Event
MUC Training schedule in 2019: Information and Registration
News
The latest tax related news, articles, infographic, video, and more
top button
Multi Utama Consultindo