Exclusive Interview

Paytren Aset Manajemen “Jalan Hijrah” Ayu Widuri

MUC Tax Guide | Tuesday, 12 March 2019
Paytren Aset Manajemen “Jalan Hijrah” Ayu Widuri

Berdirinya PT Paytren Aset Manajemen pada 2017 lalu tak lepas dari nama Ustaz Yusuf Mansur. Dai kondang yang dikenal dengan gerakan sedekah ini mengambil langkah berani menjadikan Paytren Aset Manajemen sebagai perusahaan manajer investasi syariah pertama di Indonesia. Yusuf Mansyur lantas menunjuk Ayu Widuri sebagai Chief Executive Officer (CEO) merangkap Direktur Utama Paytren Aset Manajemen.

Ayu berpengalaman lebih dari 20 tahun di perbankan dan sejumlah perusahaan manajer investasi. Terakhir dia menjabat Associate Director PT Samuel Aset Manajemen. Keputusannya menerima tawaran Yusuf Mansyur diakui sebagai ‘jalan hijrah’. Ayu harus rela berjuang lagi dari awal membangun perusahaan investasi dengan segala tantangan di depan mata.

“Tapi hijrah memang harus begini. Saya tidak mau main-main,” katanya saat menerima kunjungan MUC Tax Guide di kantor Paytren Aset Manajemen di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, Kamis (21/2/2019).

Bagaimana kisah Ayu menakhodai Paytren Aset Manajemen, yang kini sudah memiliki 8.500 investor pemegang single investor identification (SID) itu? Berikut petikan wawancaranya:

 

Bagaimana sejarah berdiri Paytren Aset Manajemen?

Mayoritas kepemilikan Paytren Aset Manajemen ada di ustaz Yusuf Mansyur. Dari awal sekali beliau ingin punya perusahaan atau bisnis yang based-nya klien retail. Beliau melihat potensi masyarakat di Indonesia untuk bisa jadi investor di negeri sendiri. Tahun 2013 beliau mendirikan paYusuf Mansyurent gateway Paytren, lewat PT Veritra Sentosa Internasional dan berkembang pesat. Kemudian mendapat ajakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuat perusahaan pengelolaan investasi reksa dana. Nah, di situlah cocok sekali dengan visi misi beliau yang ingin sekali masyarakat menengah ke bawah sekalipun bisa menjadi investor.

Andil dari OJK sejauh apa?

Dari sisi OJK sendiri, mereka ingin mengembangkan dana kelola investasi syariah di Indonesia. Jadi, antara OJK dan ustaz punya kesamaan visi misi, dan akhirnya ustaz tertarik. Pada 2017 beliau yang bukan orang pasar modal mencari tim dan kebetulan ketemu saya dan saya dipercaya untuk mendirikan sekaligus mengurus izin dan mengembangkannya.

Kenapa tertarik menerima tawaran Yusuf Mansur sebagai Direktur Utama Paytren Aset Manajemen?

Pertama, ghiroh (semangat) syariahnya. Reksa dana itu, walaupun belum reksa dana syariah sebenarnya adalah produk yang mengikuti kaidah prinsip syariah. Cita-cita OJK dan Ustaz Yusuf Mansyur bagus sekali untuk diaplikasikan. Kalau bukan kita yang mengembangkan, lalu siapa lagi? Jadi, kalau bisa jangan setengah-setengah. Secara finansial lebih kecil, tapi di situlah tantangan kita hijrah.

Apa tantangan, suka dan duka membangun Paytren Aset Manajemen?

Perusahaan pengelola investasi itu selain produk reksa dananya, perusahaannya pun sangat rigid (ketat) diatur OJK. Jadi, untuk membentuk suatu perusahaan pengelola investasi yang dapat izin OJK persyaratannya banyak sekali.

Jadi kendala ya bu buat perusahaan baru?

Menurut saya itu bukan hambatan tapi tantangan. Kalau tantangannya besar, contoh, pada saat mendirikan itu kami harus mengumpulkan tim yang akan masuk ke Paytren Aset Manajemen dengan persyaratan yang sudah rigid, sudah punya lisensi dan lisensi itu kalau saya sebagai praktisi tidak akan mengambil orang yang hanya punya lisensi, tapi belum punya pengalaman karena kami harus bergerak cepat. Jadi otomatis yang saya perlukan adalah tenaga-tenaga pofesional berpengalaman dan punya lisensi dan itu tidak gampang. Apalagi perusahaannya belum ada, baru berdiri.

Menyatukan visi di perusahaan yang baru ini bagaimana?

Tim yang ada sekarang ini persamaannya adalah kami punya ghiroh syariah yang sama dan hijrah itu justru bukan selesai tapi baru dimulai. Jadi, saya yakin tim ini punya ghiroh yang sama, makanya bisa jalan. Walaupun tantangan banyak tapi Alhamdulillah kami bisa jalan. Aktanya keluar 28 April 2017, mengajukan izin Juli 2018, OJK support, Oktober 2017 keluar izin. Produknya baru rilis Februari 2018.

Baca Juga: Berburu Pajak di Tengah Geliat Bisnis Fintech

Bagaimana perkembangan perusahaan sejauh ini?

Secara budaya, perusahaan manajer investasi itu besar karena dana kelolaan juga besar. Biasanya perusahaan manajer investasi baru itu punya tantangan mengumpulkan dana kelolaan. Kami punya target klien dua, ritel dan institusi. Biasanya kalau institusi baru mau masuk ke perusahaan manajer investasi itu melihat kita sudah punya dana kelolaan yang besar, baru mereka mau masuk atau investasi, dan kita punya track record, misalnya sudah mengelola dana selama minimal satu tahun. Jadi baru dilihat. Artinya kan kita harus berjalan dari yang investor ritel. Paytren Aset Manajemen betul-betul berdiri sendiri.

Kalau hambatan di investor ritel?

Tantangannya kalau klien ritel, prosesnya tidak cepat. Kami sudah menyiapkan sistem reksa dana online yang dirilis April 2018 dan ramah pengguna. Saat ini kami punya 85.00 SID, mungkin baru sekitar 70% yang aktif bertransaksi. Memang dana kelolaan masih kecil karena mereka baru mulai berinvestasi dari nilai minimal Rp 100.000. Jadi, yang kami lakukan adalah mengejar klien ritel terlebih dahulu selama setahun ini dan menjaga kinerja pengelolaan.

Berapa target dana kelolaan sampai akhir tahun?

Akhir tahun ini sebenarnya kami mengharapkan bisa mengelola minimal Rp 500 miliar dari investor ritel. Kami melihat dulu semester satu ini apakah calon klien institusi kami sudah melirik kami atau belum. Kami berharap dapat tambahan Rp 500 miliar dari klien institusi. Jadi, ya mudah-mudahan Rp 1 triliun bisa didapat.

Apakah target tersebut realistis?

Sebetulnya Rp 500 miliar itu achievable enggak gitu ya? Jadi begini, kami punya klien internal grup Paytren itu yang aktif dari 3 juta member mungkin 2,5 juta. Dari 2,5 juta member itu kita ambil misalnya investasi Rp 500.000, itu tidak sampai 10%. Dengan investasi Rp 1 juta saja, sudah sampai Rp 500 miliar.

Optimistis tercapai Bu?

Kalau ditanya achievable tidak? Achievable sekali. Oke kita kurangin misalnya cuma Rp 100.000 yang masuk, dengan investasi Rp 5 juta dan kami melihat kemampuan investasi nasabah kami sekarang itu rata-rata sudah sampai Rp 2 jutaan. Artinya, mendorong mereka berinvestasi minimal Rp 5 juta itu sebetulnya sangat mungkin.

Bagaimana cara mencapai target yang disebut achievable tadi?

Klien ritel adalah klien yang sangat powerful sebenarnya bagi perusahaan manajer investasi. Kalau klien institusi dia ada masa-masa tertentu harus menarik dana secara besar dan itu akan mengganggu kinerja manajer investasi. Adapun klien ritel dia relatif lebih sustainable. Hanya satu dua tahun perlu literasi tadi dan kami buat program investasi berkala yang tidak menyulitkan mereka.

Apa dukungan dari OJK dan BEI?

Alhamdulillah kami mendapat dukungan selain dari OJK, juga dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Jadi, mereka punya Sekolah Pasar Modal (SPM). Tahun ini mereka membuat kelas khusus reksa dana dan kami adalah manajer investasi yang walaupun syariah, merupakan yang pertama yang diundang mengisi kelas tersebut. Sudah empat batch (angkatan) kami jalankan, Maret ada enam batch.

Seberapa efektif menggaet investor ritel?

Mekanisme dengan BEI menurut kami sangat efektif karena mereka mensyaratkan pesertanya membuat SID di awal. Jadi tidak hanya literasi, tapi juga inklusi dan transaksi. Jadi, dari empat batch, setiap batch kami dapat 50 SID. Kami harapkan ini bisa mendorong jumlah rekening kami. Di dana kelolaan kami memang belum bisa hit dari manajer investasi lain, tapi dari jumlah rekening insya Allah bisa karena belum satu tahun kami sudah dapat 8.500 SID. Ini awal yang sebetulnya punya nilai baik yang positif dan bisa menjadi kampanye bahwa potensi investor individual kita tuh besar, tinggal diarahkan.

Tampaknya hanya lokal yang punya strategi ke ritel?

Saya melihat manajer investasi yang sudah besar, bahkan asing malah sudah mulai melakukan go retail.

Ada anggapan ‘berebut kue retail’ karena BEI juga incar ritel untuk investor saham? Apa ini ancaman bagi industri reksa dana atau bagaimana?

Kenyataannya memang ada yang ke arah sana. Tapi kami melihatnya tidak usah saling mengkanibal. Karena ini bisa jalan bersama-sama. Kalau tadi dibilang beli saham juga bisa Rp 100.000, oke Rp 100.000 beli saham, Rp 100.000 beli reksa dana. Dengan Rp 200.000 bisa jadi klien dua-duanya, saham dan reksa dana. Menurut saya itu malah lebih bagus. Jadi, si investor semakin advanced, semakin teredukasi. Saya tidak bisa bilang bahwa reksa dana saham itu risikonya lebih kecil dibanding saham walau pada kenyataannya memang begitu. Tapi, tetap ada risiko. Tapi apakah investor harus diarahkan ke reksa dana atau ke saham, menurut saya itu bukan sesuatu yang harus dipilih karena bisa jalan bersama. Kita tidak perlu berebut kue investor ritel karena mereka bisa investasi dua-duanya.

Strategi apa yang dilakukan untuk menjaga kepercayaan nasabah ritel?

Imbal hasil kami jaga, track record kami jaga. Kami juga tetap melakukan literasi dan edukasi. Kebetulan klien internal sangat familiar di medsos (media social). Jadi kami sangat aktif di medsos untuk literasi, edukasi, informasi, dan transparansi.

Nilai apa yang diterapkan dalam pengembangan sumber daya manusia di Paytren Aset Manajemen?  

Yang pasti lisensi. Mereka harus terus upgrade lisensi. Kami mendorong mereka mendapatkan lisensi pasar modal yang lebih tinggi seperti WPPE Pemasaran dan WMI. Khusus manajer investasi syariah, kami punya kewajiban juga untuk memiliki lisensi ASPM dan itu menjadi salah satu persyaratan. Kami mendorong mereka terus belajar dan meningkatkan lisensi, juga menambah ilmu lain seperti pajak. Karena walaupun mereka berpengalaman, usia mereka milenial. Jadi, kemampuan menampung pelajaran mereka lebih banyak.

[Lisensi profesi di pasar modal yakni Wakil Perantara Pedagang Efek atau WPPE, Wakil Penjamin Emisi Efek atau WPEE, Wakil Manajer Investasi atau WMI, dan Ahli Syariah Pasar Modal atau ASPM. Lisensi turunannya yakni WPPE Pemasaran dan WPPE Pemasaran Terbatas]

Paytren Aset Manajemen dengan Paytren di bawah PT Veritra Sentosa sering dianggap perusahaan yang sama. Mengapa tetap memilih brand tersebut?

Waktu pertama didirikan, kami memang enggak sempat berpikir menggunakan nama yang lain. Tapi, setelah dikembangkan, Paytren Aset Manajemen akan menyasar internal mitra Paytren. Jadi, supaya bisa membimbing dan memberi kepercayaan mereka juga. Nama Paytren ini adalah branding yang bagus buat kami sebagai manajer investasi. Jadi itu satu pertimbangan. Pertimbangan lain, nama ustaz Yusuf Mansyur cukup besar walaupun kontranya juga banyak. Tapi, alhamdulillah perjalanan sejak awal kami bisa membuktikan bahwa Paytren Aset Manajemen adalah perusahaan manajer investasi syariah yang profesional. Apapun yang terjadi pada ustaz atau Paytren, mungkin berseberangan dengan kami, enggak ada masalah dari sisi branding. Karena secara profesional mereka paham bahwa Paytren Aset Manajemen merupakan perusahaan terpisah dari Paytren. Betul kami menggunakan branding yang sama dalam rangka sebagai satu grup kita akan berjalan bersama-sama.

Visi Paytren Aset Manajemen ke depan seperti apa?

Mimpinya Ustaz Yusuf Mansyur tidak berhenti sampai membentuk Paytren Aset Manajemen. Beliau ingin sekali bisa membeli balik Indonesia. Selalu begitu. Jadi artinya kami sebagai manajer investasi, sama seperti yang lain, harusnya kita bisa keluar (go international) karena memungkinkan. Jadi kami berharap pengelolaan portofolio investasi tidak hanya lokal tapi internasional. Indonesia juga diharapkan bisa menjadi pusat bisnis syariah di dunia. Kami berharap Paytren Aset Manajemen bisa tumbuh pesat dan kami tidak mungkin bisa jalan sendiri.

Apakah ada kemungkinan Paytren Aset Manajemen melantai di bursa?

Pemikiran ke sana sudah kami pikirkan, bisa jadi perlu. Tapi sampai saat ini belum secara fokus melihat ke sana. Fokus kami mengembangkan Paytren Aset Manajemen seperti manajer investasi yang lain, mengembangkan dana kelola, berkontribusi di ekonomi syariah, go international. Untuk IPO (initial public offering, melepas saham perdana di BE)] kami melihat potensi ke sana tapi belum.

Bagaimana Paytren Aset Manajemen melihat kompetitor di reksa dana syariah?

Kami justru menunggu ada manajer investasi syariah lain karena kami tidak bisa jalan sendiri. Karena kita perlu meyakinkan masyarakat. Jadi Paytren Aset Manajemen walaupun punya Ustaz Yusuf Mansyur, powerful. Tapi kami perlu teman karena justru kalau ada manajer investasi syariah baru, itu suatu hal yang sangat positif sekali dan akan kami sambut baik.

Seberapa akomodatif regulasi soal reksa dana syariah?

Nanti akan ada asosiasi manajer investasi syariah, di mana kebijakan OJK selama ini masih umum, mencakup antara konvensional dan syariah. Padahal sebetulnya di syariah ada hal-hal yang tidak bisa digabungkan dengan konvensional. Justru kami berharap salah satu tujuan kami mendirikan Paytren Aset Manajemen adalah bisa memancing yang lain ikut bersama. Dan teman-teman di pasar modal paham itu dan mereka juga cukup antusias ke arah syariah meskipun kebijakan perusahaannya belum mau ke syariah.

Bagaimana tanggapan soal wacana insentif bagi pelaku e-commerce?

Sangat mendukung karena kalau kami tidak punya sistem reksa dana online, kami tidak mungkin bisa punya 8.500 SID dalam waktu kurang dari 1 tahun karena investor retail itu harus diperlakukan secara personal. Perusahaan manajer investasi yang fokus di fintech [financial technology] itu belum banyak. Kami fokus ke sana. Kami paperless.

Apa saja strategi mengembangkan fintech yang dimiliki Paytren Aset Manajemen?

Selain infrastruktur, yang pasti kami akan menambah dari yang web ke aplikasi. Itu akan menjangkau lebih banyak lagi. Kami juga akan berinovasi, bekerja sama dengan agen penjual yang punya fintech juga karena kami tahu ‘kue’ kami di grup Paytren akan tertangani dengan Payor (sistem reksa dana online milik Paytren Aset Manajemen). Tapi untuk ‘kue’ di luar mungkin perlu fintech lain. Kami melihat harus bergerak ke sana juga, berkolaborasi bersama juga karena ke depan kami melihat investor itu maunya one stop shopping, dan itu juga yang sedang dikembangkan di Paytren.

Apa saja diferensiasi produk Paytren Aset Manajemen?

Kami punya tiga produk dengan preferensi tujuan dan kebutuhan berbeda-beda. Ada reksa dana pasar uang syariah yang risikonya paling rendah. Kedua, kami punya reksa dana saham. Setiap manajer investasi biasanya punya reksa dana saham untuk punya track record. Ketiga kami punya reksa dana campuran, hasil kerja sama dengan PPPA Darul Quran (Daqu, lembaga pengelola sedekah). Jadi karena pemiliknya ustaz Yusuf Mansyur, tentu kami punya diferensiasi, salah satunya reksa dana Daqu. Tujuannya, masyarakat selain bisa berinvestasi juga bisa bersedekah karena ada porsi sebesar 1% per tahun yang kami alihkan ke PPPA Darul Qur’an dari berapa pun nilai investasi yang dikumpulkan.

Bagaimana pengembangan inovasi produk ke depan?

Inovasi produk itu daftarnya sudah banyak banget. Inovasi akan dibuka tidak hanya tiga produk. Potensi kolaborasi dengan unit bisnis lain memungkinkan sekali. Tapi, bergeraknya harusnya ada teman-temannya. Target tahun ini akumulasi klien, karena kalau tidak ada itu, tidak ada dana kelolaan yang besar dan operasional terganggu. Kami perlu prioritas yang disusun. Literasi. Inovasi produk pasti akan dilakukan.

Bagaimana komitmen Paytren Aset Manajemen menjadi wajib pajak yang patuh?

Kami patuh banget. Setiap bulan pelaporan pajak, kami paling rigid melakukan pelaporan. Saya tidak terlalu detail paham soal pajak tapi saya punya tim yang comply (taat aturan). Kami selalu tekankan bahwa kami harus bisa jadi perusahaan manajer investasi yang comply dengan OJK, termasuk juga dengan perpajakan karena merupakan daya jual kami.

Bagaimana persepsi Anda soal pajak ini?

Begini, sekarang AUM [dana kelolaan, asset under management] belum besar, terus enggak comply, terus apa yang dijual? Kami melihat semua potensi positif yang bisa membuat perusahaan memiliki brand positif kami lakukan. Jadi, kami berharap bisa mendapatkan karpet merah di situ. Kami juga inisiatif mencari informasi, melengkapi berkas yang kurang, tepat waktu karena kami berharap bisa dapat predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Itu merupakan good image dan branding yang bagus buat kami. Laporan audit, kami juga sangat concern. Satu hal yang sangat saya jaga, saya adalah orang yang sangat rigid dengan regulasi. Saya tidak mau ini main-main, selain secara pribadi saya tidak mau perusahaan ini aneh-aneh, yang kedua karena kami bawa misi syariah. Orang harus diyakinkan dengan syariah, menepis isu-isu negatif mengenai syariah, ekonomi syariah.

Apakah ada hambatan atau kesulitan mengenai perpajakan?

Alhamdulillah tidak ada. Saya bahkan mengurus SPT (surat pemberitahuan tahunan) sebelum waktunya. Semua tim juga harus begitu.

Apa saja tips bagi milenial membangun bisnis yang halal dan berkah?

Berdasarkan pengamatan pribadi dan mungkin bisa salah, saya melihat teman-teman milenial itu sangat inovatif, sangat agresif, berani, dan mau berjuang. Jadi membentuk startup (perusahaan rintisan) mereka jago, tapi satu yang perlu diperhatikan adalah sustainable atau keberlanjutannya. Ini yang perlu dibenahi, karena startup yang bagus banyak, tapi yang sustain belum banyak. Pasalnya, belum banyak yang punya pikiran, ‘ah saya mau wariskan ke anak cucu’. Kedua, biasanya dari sisi pengaturan keuangan, mungkin perlu ditata lebih baik. Kadang-kadang ada, misalnya, perusahaan sudah besar, tapi di poin tertentu kehabisan bujet ekspansi, akhirnya dijual. Setelah dijual malah berkembang pesat, tapi tak bisa mewariskan ke anak cucu. Tips saya, selain berwirausaha, juga berinvestasi. Berwirausaha dan berinvestasi harus jalan beriringan. Kenapa mesti dipisah-pisah?

Bagaimana tips memulai investasi reksa dana?

Yang pasti mesti melihat kinerja. Tapi itu bukan yang utama. Yang pertama adalah tahu dulu tujuan keuangan kita. Kedua, lihat produk. Coba cari yang sesuai dengan tujuan. Pilihlah syariah sebagai muslim. Kalau bukan non-muslim, pilihlah syariah juga karena syariah lebih rigid dari sisi pemilihan saham. Artinya, memberi keamanan yang lebih. Review imbal hasil dilihat dan isinya juga, portofolionya apa, dan track record. Pilih manajer investasi yang memang juga punya rekam jejak baik, dan tentunya terdaftar di OJK.

RelatedArticles

Previous Next
Publication
Tax Guide, Tax Blitz, and other complimentary publications to download
Event
MUC Training schedule in 2019: Information and Registration
News
The latest tax related news, articles, infographic, video, and more
top button
Multi Utama Consultindo