Wednesday, 12 December 2018

Kinerja Pajak Sektor Manufaktur Melambat

Kinerja Pajak Sektor Manufaktur Melambat

Bisnis Indonesia, JAKARTA. Kendati penerimaan pajak tumbuh di atas 15%, sejumlah sektor penerimaan pajak menunjukkan penurunan dibandingkan dengan bulan atau tahun sebelumnya.

Sektor manufaktur yang kontribusi ke penerimaan pajak paling besar yakni 30% tercatat tumbuh melambat, per November 2018 tercatat 12,74% lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 12,9% atau tahun lalu yang mampu tumbuh 18,39%. Penurunan kinerja manufaktur itu berbanding terbalik dengan penerimaan PPh badan yang justru mampu tumbuh 22,10%.

Direktur Jenderal Pajak Robert Pakpahan menyebut, kinerja penerimaan pajak bisa dilihat untuk menjelaskan kinerja sektor yang menopang penerimaan pajak.

Apabila manufaktur melambat, bisa dimaknai pertumbuhan sektor tersebut juga melambat. Namun demikian, hal itu juga bisa disebabkan oleh restitusi penerimaan pajak yang membuat penerimaan manufaktur tertekan.

“Sebenarnya penerimaan pajak bisa digunakan untuk menganalisa pertumbuhan suatu sektor karena pajak tersebut proses paling akhir, misalnya kinerja penerimaan PPh badan bagus karena ekonominya terus tumbuh,” ungkap Robert di Bogor, Selasa (11/12).

Soal komponen PPh badan, menurut Robert, juga tidak hanya ditopang oleh sektor manufatur. Perkembangan penerimaan pajak dari sektor tambang juga bisa menjadi salah satu penjelasan untuk menggambarkan pertumbuhan PPh badan yang konsisten di atas 20%. Penerimaan sektor pertambangan masih tumbuh di atas 50%, meskipun pada bulan-bulan sebelumnya mampu tumbuh pada angka 70%-an.

Robert mengakui bahwa tantangan penerimaan pajak sesuai dengan outlook APBN 2018 sebesar Rp1.350,9 trilun merupakan pekerjaan tidak mudah. Apalagi, pelambatan pertumbuhan penerimaan pajak baik dari sisi jenis maupun sektor tertentu akan sangat mempengaruhi penerimaan pajak.

PPN, misalnya, hanya mampu tumbuh pada angka 14%, jika dibedah penerimaan PPN dalam negeri tertekan pada angka 8,45%, padahal tahun lalu tumbuh pada angka 13,83%. Hal ini berbanding terbalik dengan PPN impor yang mampu tumbuh pada angka 26,5%.

“Kami di internal memang berdiskusi masih sulit bisa dicapai. Memang sedikit melambat, tapi bisa pada angka 94%-an,” jelasnya.

Penerimaan Ditjen Pajak sampai dengan akhir November tercatat mencapai Rp1.136,6 triliun atau tumbuh 15,35%. Penerimaan Ditjen Pajak tersebut ditopang oleh penerimaan PPh nonmigas senilai Rp596,1 triliun, PPh migas senilai Rp59,7 triliun, dan PPN termasuk PPnBM senilai Rp459,9 triliun.


RelatedNews

Previous Next
Publication
Tax Guide, Tax Blitz, and other complimentary publications to download
Event
MUC Training schedule in 2019: Information and Registration
News
The latest tax related news, articles, infographic, video, and more
top button
Multi Utama Consultindo